Hukum Ghibah Saat Puasa: Apakah Puasa Batal atau Pahala Hilang?
Menurut mayoritas ulama (Jumhur Fuqaha), ghibah (menggunjing) tidak membatalkan puasa secara fisik, yang berarti puasa tetap sah. Namun, perbuatan ghibah menghilangkan pahala puasa tersebut, menjadikannya puasa yang sia-sia (lighwun). Intinya, puasa menjadi “hanya menahan lapar dan dahaga saja” tanpa nilai spiritual di sisi Allah ﷻ SWT.
Ramadan adalah bulan suci di mana umat Islam berupaya meningkatkan ketakwaan. Ini adalah waktu untuk introspeksi, menahan diri, dan membersihkan diri dari segala perbuatan buruk. Kita semua tahu bahwa puasa berarti menahan diri dari makan, minum, dan hubungan intim dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, ada aspek penting lain yang seringkali terlupakan, yaitu menahan lisan.
Ghibah, atau menggunjing orang lain, seringkali dianggap remeh di tengah pergaulan sehari-hari. Padahal, ghibah adalah salah satu dosa besar dalam Islam. Ketika kita memasuki bulan Ramadan, pertanyaan ini menjadi sangat penting: bagaimana hukum ghibah saat puasa? Apakah perbuatan ini membatalkan puasa yang sudah kita lakukan? Untuk memahami lebih dalam, mari kita telusuri panduan dari sumber-sumber ajaran Islam yang terpercaya. (Link: Untuk informasi lebih lanjut mengenai fiqih puasa, Anda bisa mengunjungi situs resmi Nahdlatul Ulama atau Majelis Ulama Indonesia di nu.or.id).
Memahami Hakikat Ghibah dalam Ajaran Islam
Sebelum membahas hukum ghibah saat puasa, mari kita pahami terlebih dahulu definisi ghibah itu sendiri. Secara bahasa, ghibah berarti membicarakan keburukan orang lain di belakangnya. Dalam hadis Rasulullah ﷺ SAW, ghibah didefinisikan sebagai “engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang dia benci.”
Ghibah dapat terjadi dalam berbagai bentuk, baik melalui ucapan lisan, tulisan di media sosial, bahkan isyarat atau bahasa tubuh. Kunci utama ghibah adalah menyebutkan kekurangan atau aib seseorang yang seandainya ia tahu, ia akan merasa tidak suka. Perlu dibedakan antara ghibah (menggunjing fakta yang benar) dengan buhtan (fitnah, yaitu mengarang kebohongan). Keduanya sama-sama dosa besar, namun buhtan dianggap lebih parah.
Pandangan Ulama: Apakah Puasa Batal Karena Ghibah?
Ini adalah poin sentral yang sering dipertanyakan. Mayoritas ulama berpendapat bahwa ghibah tidak termasuk hal-hal yang membatalkan puasa secara fiqih, seperti makan, minum, atau muntah disengaja. Namun, ini tidak berarti bahwa ghibah saat puasa adalah perkara ringan.
Para ulama dari empat mazhab utama (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali) sepakat bahwa ghibah tidak membatalkan puasa. Jika seseorang berpuasa dan melakukan ghibah, ia tidak diwajibkan untuk mengqadha puasanya di hari lain. Puasa tersebut secara teknis dianggap sah. Namun, pandangan ini disertai dengan peringatan keras mengenai dampak spiritualnya.
Puasa yang Sia-Sia: Hilangnya Pahala Akibat Ghibah
Meskipun ghibah tidak membatalkan puasa secara fiqih, jumhur ulama sepakat bahwa perbuatan ini dapat merusak inti dari ibadah puasa, yaitu mengurangi pahalanya. Puasa bukan hanya menahan diri dari kebutuhan fisik, tetapi juga menahan hawa nafsu dan perbuatan maksiat.
Ketika seseorang melakukan ghibah, ia telah merusak tujuan utama puasa, yaitu mencapai ketakwaan (Surah Al-Baqarah: 183). Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah ﷺ SAW bersabda: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa, maka Allah ﷻ tidak membutuhkan puasanya dari makan dan minum.” Hadis ini menunjukkan bahwa puasa tanpa menjauhi dosa lisan akan menjadi sia-sia di mata Allah ﷻ.
Dalil Al-Quran dan Hadits Mengenai Dosa Ghibah
Untuk memahami betapa seriusnya hukum ghibah saat puasa, mari kita lihat dalil-dalil kuat dari Al-Quran dan Sunnah Rasulullah ﷺ SAW. Allah ﷻ SWT telah memberikan perumpamaan yang sangat mengerikan bagi pelaku ghibah dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.”
Perumpamaan memakan bangkai saudara sendiri menunjukkan betapa kejinya perbuatan ghibah di mata Allah ﷻ. Di bulan Ramadan, saat kita sedang membersihkan diri, perbuatan ini justru mengotori kembali jiwa kita.
Ghibah: Merusak Puasa Secara Spiritual
Selain ayat Al-Quran di atas, ada hadis lain yang secara spesifik membahas dampak ghibah terhadap puasa. Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ SAW bersabda: “Lima perkara yang membatalkan (merusak) puasa: ghibah, namimah (adu domba), berdusta, melihat dengan syahwat, dan sumpah palsu.”
Hadis ini menunjukkan bahwa ghibah merusak puasa dari sisi pahala, bukan dari sisi keabsahan ibadah. Jadi, jika kita melakukan ghibah saat puasa, kita mungkin tidak perlu mengganti puasa (qadha), tetapi kita kehilangan pahala yang seharusnya didapatkan.
Kotak Penting: Dampak Hukum Ghibah Saat Puasa
Ghibah tidak membatalkan puasa secara fiqih, namun perbuatan ini menghilangkan pahala puasa. Inilah yang membuat puasa menjadi sia-sia, di mana seseorang hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja, tanpa nilai ibadah di sisi Allah ﷻ. Mari kita hindari ghibah saat puasa agar ibadah Ramadan kita diterima sepenuhnya.
Mengapa Menjaga Lisan Begitu Berat di Bulan Ramadan?
Ramadan adalah bulan pengendalian diri. Syaitan dibelenggu, namun hawa nafsu manusia tetap aktif. Salah satu hawa nafsu yang paling sulit dikendalikan adalah lisan. Ghibah sering terjadi secara spontan, tanpa disadari, terutama saat berkumpul dengan teman-teman atau keluarga (seperti saat ngabuburit atau selesai shalat tarawih).
Ketika kita berpuasa, tubuh kita lemas dan emosi bisa menjadi lebih sensitif. Namun, justru pada saat inilah kita diuji untuk mengendalikan diri secara total, termasuk lisan. Menjaga lisan dari ghibah saat puasa adalah salah satu manifestasi tertinggi dari takwa, yang merupakan tujuan utama puasa.
Panduan Praktis Menghindari Ghibah Selama Berpuasa
Ustadz menyarankan beberapa langkah praktis untuk menghindari ghibah saat puasa dan menjaga kesucian ibadah Ramadan kita:
- Sadarilah Bahwa Ghibah Adalah Dosa Besar: Sebelum berbicara, renungkan kembali apakah perkataan kita mengandung unsur ghibah. Ingatlah perumpamaan memakan bangkai saudara sendiri. Jika kita teringat dalil ini, insya Allah ﷻ hati kita akan gentar untuk melanjutkan pembicaraan tersebut.
- Alihkan Pembicaraan: Jika berada dalam sebuah majelis yang cenderung mengarah ke ghibah, berusahalah untuk mengalihkan topik pembicaraan. Ajaklah teman-teman untuk membahas hal yang lebih bermanfaat, seperti mempersiapkan menu buka puasa, berbagi ilmu agama, atau merencanakan kegiatan sosial.
- Memperbanyak Dzikir dan Istighfar: Ketika ada dorongan untuk berghibah, gantilah dorongan tersebut dengan dzikir (mengingat Allah ﷻ) dan istighfar (memohon ampunan). Dzikir dapat menenangkan hati dan menjauhkan kita dari perbuatan sia-sia.
- Menjaga Jarak dari Pemicu Ghibah: Jika kita tahu bahwa ada kelompok atau individu tertentu yang sering melakukan ghibah, hindarilah berkumpul dengan mereka jika tidak ada keperluan mendesak. Pilihlah teman-teman yang dapat membantu kita menjaga keimanan, terutama di bulan Ramadan.
- Perbaiki Niat: Ingatkan diri sendiri bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan lisan. Jika kita menahan lapar dan minum seharian penuh, sangat disayangkan jika puasa kita rusak hanya karena kita tidak mampu menahan lisan selama 5 menit.
Menjaga Kualitas Puasa di Bulan Ramadan
Puasa di bulan Ramadan adalah anugerah besar dari Allah ﷻ SWT. Ini adalah kesempatan emas untuk melatih diri menjadi pribadi yang lebih baik. Setelah kita memahami hukum ghibah saat puasa, mari kita bertekad untuk menjauhi perbuatan tersebut.
Jangan biarkan ibadah yang kita jalani selama sebulan penuh menjadi sia-sia hanya karena kita tidak mampu mengendalikan lisan. Mari kita jadikan Ramadan ini sebagai titik balik untuk membersihkan diri dari segala dosa lisan, baik ghibah, namimah, maupun perkataan dusta. Semoga Allah ﷻ SWT menerima ibadah puasa kita dan menjadikan kita hamba yang bertakwa.
FAQ Mengenai Hukum Ghibah Saat Puasa
Q: Apakah mendengarkan ghibah sama dosanya dengan melakukan ghibah?
A: Ya, mendengarkan ghibah tanpa berusaha menghentikannya atau mengingatkan pelaku ghibah juga termasuk perbuatan dosa. Apabila Anda mendengarkan ghibah, Anda memiliki dua pilihan: mengingatkan pelaku atau meninggalkan majelis tersebut. Jika Anda menikmati ghibah tersebut, dosanya sama beratnya dengan orang yang melakukan ghibah.
Q: Bagaimana jika ghibah bertujuan untuk kebaikan? Contohnya, memberi tahu orang tua tentang kekurangan calon pasangan anaknya?
A: Dalam Islam, ada pengecualian tertentu di mana menyebutkan aib seseorang tidak dianggap ghibah. Para ulama menyebutkan enam kondisi, salah satunya adalah ketika ghibah diperlukan untuk memberi nasihat atau peringatan (nasihat syar’i). Contohnya, saat ingin menasihati orang tua tentang calon menantu yang memiliki masalah moral, ini diperbolehkan demi menjaga kemaslahatan. Namun, ini harus dilakukan dengan niat tulus dan hanya kepada pihak yang berkepentingan saja, bukan disebarluaskan.
Q: Apakah bergosip tentang tokoh publik atau selebriti termasuk ghibah?
A: Ya. Selama perbincangan tersebut menyangkut kekurangan atau aib seseorang yang seandainya ia tahu ia akan tidak suka, maka itu termasuk ghibah, meskipun orang tersebut adalah tokoh publik. Hukum ghibah saat puasa tidak membedakan status sosial seseorang. Menghindari ghibah adalah kewajiban bagi setiap muslim.
