Doa Berbuka Puasa yang Benar: Amalan Sunnah Sesuai Hadits Shahih

Sungguh, waktu berbuka puasa adalah salah satu waktu mustajab di mana doa-doa kita tidak akan ditolak oleh Allah ﷻ SWT. Doa berbuka puasa yang benar berdasarkan Hadits Shahih adalah: “Dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insyaa Allah ﷻ.” (Artinya: “Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat, dan telah ditetapkan pahala insya Allah ﷻ.”). Doa ini dibaca setelah meneguk air atau memakan kurma, bukan sebelumnya.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saudaraku seiman, mari kita sambut Ramadhan dengan hati yang lapang dan jiwa yang tenang. Bulan suci ini adalah anugerah terindah yang Allah ﷻ berikan kepada umat-Nya untuk membersihkan diri dan mendekatkan diri kepada-Nya. Salah satu momen yang paling ditunggu dan penuh berkah adalah saat adzan Maghrib berkumandang, menandakan berakhirnya puasa harian kita.
Terkadang, di tengah kesibukan menyiapkan hidangan berbuka, kita disibukkan dengan pertanyaan seputar amalan yang benar. Pertanyaan yang paling sering muncul adalah: “Manakah doa berbuka puasa yang benar?” dan “Kapan waktu yang tepat untuk membacanya?” Kebingungan ini wajar, mengingat ada beberapa versi doa yang beredar di masyarakat. Insya Allah ﷻ, melalui artikel ini, kita akan menelusuri sumber-sumber Hadits yang sahih agar kita dapat mengamalkan doa berbuka puasa yang benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Dengan memahami tata cara yang benar, ibadah puasa kita akan menjadi lebih sempurna di hadapan Allah ﷻ SWT. Untuk memperkaya pemahaman kita tentang fiqih Ramadhan, Anda dapat merujuk pada situs otoritas seperti NU Online, sebuah lembaga yang berpegang teguh pada ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah.
Keutamaan Momen Berbuka Puasa dalam Pandangan Islam
Sebelum kita membahas teks doa berbuka puasa yang benar, penting bagi kita untuk memahami keistimewaan waktu berbuka puasa itu sendiri. Rasulullah ﷺ bersabda, “Ada tiga doa yang tidak ditolak: doa orang tua, doa orang yang berpuasa, dan doa musafir.” (HR. Baihaqi). Ini menunjukkan bahwa saat-saat menjelang dan setelah berbuka adalah kesempatan emas bagi seorang hamba untuk memanjatkan permohonan kepada Rabb-nya.
Momen ini adalah puncak dari ketaatan kita sepanjang hari, di mana kita telah menahan hawa nafsu, lapar, dan dahaga. Keberkahan waktu berbuka tidak hanya terletak pada makanan yang kita santap, tetapi pada spiritualitas yang menyelimuti. Oleh karena itu, hendaknya kita tidak menyia-nyiakan momen berharga ini hanya dengan terburu-buru menyantap hidangan, tetapi mengisinya dengan dzikir dan doa terbaik.
Memahami Perbedaan Versi Doa Berbuka Puasa yang Benar
Dalam masyarakat, seringkali kita menemukan dua versi utama doa berbuka puasa. Versi pertama, yang paling populer di Indonesia, berbunyi Allah ﷻumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu. Sementara versi kedua, yang lebih dianjurkan oleh para ulama ahli Hadits, berbunyi Dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insyaa Allah ﷻ. Mari kita telaah keduanya.
Versi Pertama: Doa ‘Allah ﷻumma Laka Shumtu’
Doa ini berbunyi: “Allah ﷻumma laka shumtu wa bi ‘ala rizqika afthartu.” Artinya: “Ya Allah ﷻ, untuk-Mu aku berpuasa, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.” Doa ini sering kita jumpai dalam berbagai buku panduan fiqih. Namun, sebagian besar ulama ahli Hadits modern meragukan kesahihan (keautentikan) hadits yang mendasari doa ini.
Hadits yang meriwayatkan doa ini seringkali diklasifikasikan sebagai Hadits Dha’if (lemah). Meskipun begitu, para ulama Fiqih tidak lantas melarang membacanya. Dalam kaidah Fiqih, menggunakan Hadits Dha’if untuk amalan fadhailul a’mal (keutamaan amal) diperbolehkan, asalkan tidak menyangkut penetapan hukum wajib atau haram. Namun, kita harus mencari doa berbuka puasa yang benar yang memiliki landasan Hadits Shahih, jika tersedia.
Versi Kedua: Doa ‘Dzahabazh zhama’u’
Doa ini berbunyi: “Dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insyaa Allah ﷻ.” Artinya: “Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat, dan telah ditetapkan pahala insya Allah ﷻ.” Doa ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunannya, dan dinilai hasan (baik) oleh banyak ulama, termasuk Syekh Al-Albani.
Doa ini memiliki keutamaan karena secara langsung merefleksikan hasil dari puasa yang telah kita jalani. Ungkapan “telah hilang dahaga” dan “telah basah urat-urat” menunjukkan rasa syukur atas terpenuhinya kebutuhan fisik setelah berpuasa. Sementara frasa “telah ditetapkan pahala insya Allah ﷻ” adalah harapan terbesar kita sebagai hamba. Dengan demikian, doa berbuka puasa yang benar yang sesuai dengan Hadits Shahih adalah doa ini.
Kotak Penting: Kapan Waktu Terbaik Membaca Doa Berbuka Puasa yang Benar?
Para ulama Hadits sepakat bahwa waktu membaca doa berbuka puasa yang benar adalah setelah kita berbuka (memasukkan makanan atau minuman pertama ke dalam mulut). Doa Dzahabazh zhama’u secara eksplisit menunjukkan bahwa dahaga telah hilang, yang logisnya terjadi setelah kita minum. Berbeda dengan pandangan umum yang menyarankan doa dibaca sebelum menyentuh makanan, sunnahnya adalah bersyukur setelah selesai berbuka.
Mengapa Doa ‘Dzahabazh zhama’u’ Dianggap Lebih Utama?
Para ulama Hadits dan fiqih modern lebih memilih untuk mengedepankan Dzahabazh zhama’u sebagai doa berbuka puasa yang benar karena dua alasan utama. Pertama, landasan haditsnya lebih kuat dibandingkan versi Allah ﷻumma laka shumtu. Kedua, dari segi makna dan waktu pengucapan, doa ini lebih sesuai.
Ketika kita membaca Dzahabazh zhama’u setelah berbuka, kita sedang bersyukur atas rezeki yang Allah ﷻ berikan dan memohon agar pahala puasa kita diterima. Ini adalah bentuk pengakuan tulus seorang hamba yang telah menunaikan ibadah dan kini menerima hasilnya. Sebaliknya, membaca doa Allah ﷻumma laka shumtu (Ya Allah ﷻ, untuk-Mu aku berpuasa…) saat adzan Maghrib berkumandang sebelum berbuka, seolah-olah mengesankan bahwa kita belum menyelesaikan puasa kita. Padahal, berbuka puasa adalah bagian dari menyempurnakan ibadah tersebut.
Panduan Praktis Melaksanakan Sunnah Berbuka Puasa yang Benar
Marilah kita terapkan sunnah berbuka puasa ini dalam kehidupan sehari-hari selama Ramadhan. Langkah-langkah ini akan membuat ibadah kita lebih bermakna dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Ini bukan hanya tentang doa berbuka puasa yang benar, tetapi tentang tata cara keseluruhan yang dianjurkan.
- Segera Berbuka Puasa: Dahulukan berbuka puasa segera setelah adzan Maghrib berkumandang. Jangan menunda-nunda karena rasa malas atau kesibukan lain. Berbuka dengan kurma dan air adalah sunnah yang paling dianjurkan.
- Membaca Basmalah dan Berbuka: Ucapkan Basmalah sebelum memulai berbuka puasa. Makanlah kurma (ganjil) atau minum air, kemudian ucapkan doa berbuka puasa yang benar (Dzahabazh zhama’u…).
- Memperbanyak Doa di Waktu Mustajab: Jangan lupa bahwa seluruh rentang waktu menjelang dan setelah berbuka adalah waktu yang mustajab. Manfaatkan waktu ini untuk berdoa bagi diri sendiri, keluarga, dan umat Islam secara umum.
FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Doa Berbuka Puasa
1. Apakah Boleh Menggabungkan Doa-doa Berbuka Puasa?
Ya, tentu saja. Anda boleh menggabungkan kedua doa tersebut, atau bahkan menambahkan doa-doa lain yang bersifat umum (seperti memohon ampunan, kesehatan, atau rezeki). Namun, jika Anda ingin mengamalkan doa berbuka puasa yang benar yang paling sesuai dengan sunnah, prioritaskan Dzahabazh zhama’u setelah berbuka. Sementara Allah ﷻumma laka shumtu dapat dibaca sebagai doa niat umum sebelum berbuka.
2. Bagaimana Jika Saya Lupa Membaca Doa Berbuka Puasa?
Jangan khawatir, jika Anda lupa membaca doa berbuka puasa yang benar, puasa Anda tetap sah. Doa berbuka puasa adalah sunnah, bukan rukun puasa. Anda dapat memohon ampunan kepada Allah ﷻ SWT dan bertekad untuk tidak melupakannya di hari berikutnya.
3. Kapan Sebaiknya Doa Berbuka Puasa yang Benar Dibaca?
Waktu terbaik untuk membaca doa berbuka puasa yang benar (Dzahabazh zhama’u…) adalah setelah Anda mengkonsumsi makanan atau minuman pertama. Ini sesuai dengan makna doa tersebut yang menyatakan bahwa dahaga telah hilang.
Mengakhiri Ramadhan dengan Penuh Keberkahan
Saudaraku, semoga kita semua dapat melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan dan kesempurnaan. Memahami doa berbuka puasa yang benar bukan sekadar menghafal kata-kata, tetapi menumbuhkan kesadaran bahwa setiap amalan kita harus berdasarkan tuntunan Rasulullah ﷺ.
Mari jadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum untuk memperbaiki kualitas ibadah kita, termasuk saat berbuka puasa. Berbuka dengan niat yang benar, segera, dan diikuti dengan doa yang sesuai sunnah adalah kunci meraih keberkahan. Jangan biarkan perbedaan pendapat menghalangi kita dari mengamalkan yang terbaik. Semoga Allah ﷻ menerima setiap puasa kita dan menjadikan kita hamba yang senantiasa bersyukur. Wallahu a’lam bish-shawab.



![Doa Berbuka Puasa yang Benar Niat Puasa Ganti Ramadhan: Cara & Batas Akhir [Panduan 2026]](https://islamku.id/wp-content/uploads/2025/12/image-49-768x419.png)


