Perbedaan Tarawih 8 Dan 20 Rakaat? Jangan Bingung, Ini Penjelasan Lengkap & Dalilnya!

Perbedaan tarawih 8 dan 20: 8 rakaat merujuk hadits Nabi SAW, 20 rakaat merujuk praktik Umar bin Khattab. Keduanya sah dan sunnah untuk diamalkan.
Alhamdulillah, kita kembali dipertemukan dengan bulan Ramadan. Momen ini adalah kesempatan emas bagi kita untuk membersihkan diri, meningkatkan ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah ﷻ SWT. Salah satu ibadah yang paling dinanti adalah shalat tarawih. Namun, seringkali muncul kebingungan di tengah masyarakat, terutama bagi mereka yang baru mendalami agama atau berpindah-pindah tempat shalat. Di masjid A, tarawih dilaksanakan 8 rakaat ditambah 3 witir. Di masjid B, tarawih dilaksanakan 20 rakaat ditambah 3 witir. Pertanyaan yang selalu muncul: mana yang paling benar?
Kekhawatiran seperti ini wajar adanya. Saya pernah menemui kasus di mana suami istri berdebat hebat karena sang suami ingin shalat tarawih 8 rakaat agar bisa mengkhatamkan Al-Qur’an di rumah, sementara sang istri ingin mengikuti 20 rakaat bersama ibu-ibu di masjid kompleks karena merasa lebih afdal mengikuti mayoritas. Perdebatan ini, yang seharusnya tidak terjadi, justru mengganggu ketenangan spiritual mereka di bulan Ramadan. Padahal, inti dari perbedaan ini sesungguhnya adalah rahmat, bukan bencana. Melalui artikel ini, saya akan mengajak Anda untuk menelaah akar perbedaannya, sehingga kita bisa beribadah dengan hati yang lapang dan damai.
Memahami Akar Perbedaan Tarawih: Bukan Hanya Soal Angka
Saya sering mengatakan kepada jamaah: Jangan terjebak pada jumlah rakaat, tapi pahami konteksnya. Shalat tarawih adalah ibadah sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) di bulan Ramadan. Penamaan “tarawih” itu sendiri bermakna “istirahat” atau “menyelingi waktu istirahat,” karena para sahabat Nabi dulu melaksanakan shalat malam yang panjang, lalu beristirahat sejenak, dan melanjutkannya lagi.
Ketika Rasulullah SAW masih hidup, beliau pernah memimpin shalat malam di bulan Ramadan, namun beliau tidak pernah melakukannya secara rutin berjamaah. Khawatir shalat ini akan diwajibkan kepada umatnya, beliau kemudian memilih shalat di rumah. Dalil inilah yang menjadi landasan utama bagi mereka yang berpendapat tarawih dikerjakan 8 rakaat (ditambah witir).
Di lapangan, seringkali terjadi kesalahpahaman. Sebagian orang menganggap 20 rakaat adalah bid’ah (sesuatu yang baru tanpa dasar), sementara yang lain menganggap 8 rakaat tidak lengkap karena tidak mengikuti praktik mayoritas. Padahal, kedua pandangan ini memiliki dasar pijakan yang kuat. Perbedaan ini adalah hasil dari interpretasi terhadap sunnah Rasulullah SAW dan praktik para sahabat setelah beliau wafat, bukan karena “salah” atau “benar.” Ini adalah bentuk toleransi dan fleksibilitas dalam syariat Islam yang justru memudahkan kita.
Perbedaan Tarawih 8 dan 20: Pilihan Dalil yang Sama-Sama Kuat
Untuk mempermudah pemahaman kita, mari kita telaah dalil-dalil utama yang mendasari kedua praktik ini.
Pilihan Dalil untuk Tarawih 8 Rakaat (Hadits Aisyah)
Pendapat yang memilih tarawih 8 rakaat bersandar pada hadits sahih dari Aisyah RA, di mana beliau ditanya tentang shalat Rasulullah di bulan Ramadan. Aisyah menjawab, “Rasulullah SAW tidak pernah shalat malam lebih dari 11 rakaat, baik di bulan Ramadan maupun di bulan lainnya. Beliau shalat empat rakaat (panjang sekali), kemudian shalat empat rakaat lagi (panjang sekali), kemudian shalat tiga rakaat (witir).” (HR Bukhari dan Muslim).
Konteks Lapangan: Hadits ini menjelaskan bahwa shalat Rasulullah SAW bukan hanya sekadar hitungan rakaat, melainkan juga durasi. Shalat beliau panjang sekali, penuh dengan kekhusyukan dan penghayatan. Mereka yang memilih 8 rakaat seringkali berpendapat bahwa yang terpenting adalah meneladani kualitas shalat Rasulullah, bukan sekadar kuantitas. Jika shalat 8 rakaat dilaksanakan dengan khusyuk dan bacaan yang panjang, maka ini sudah sangat memadai dan sesuai dengan sunnah.
Pilihan Dalil untuk Tarawih 20 Rakaat (Praktik Sahabat Umar bin Khattab)
Pendapat yang memilih tarawih 20 rakaat bersandar pada praktik yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab RA. Setelah Rasulullah wafat, shalat tarawih kembali dilaksanakan secara sporadis di masjid. Umar kemudian berinisiatif untuk menyatukan umat Islam di belakang satu imam dan menetapkan jumlah 20 rakaat. Praktik ini disetujui oleh para sahabat dan terus berlanjut hingga masa kini. Ibnu Taimiyyah (seorang ulama besar) menjelaskan bahwa para sahabat sepakat bahwa shalat tarawih yang dilakukan oleh Umar adalah sunnah.
Konteks Lapangan: Praktik 20 rakaat ini dianut oleh mayoritas umat Islam di berbagai madzhab fikih, termasuk Madzhab Syafi’i, Hanafi, dan Hambali. Ini menunjukkan adanya konsensus (ijma’) para sahabat yang melihat bahwa 20 rakaat adalah solusi terbaik untuk menyatukan umat dan memberikan kemudahan. Sebab, jika shalat 8 rakaat dilakukan dengan durasi sangat panjang seperti yang dilakukan Rasulullah, tidak semua jamaah mampu mengikutinya. Dengan 20 rakaat yang bacaannya lebih pendek, lebih banyak orang bisa ikut serta.
Tabel Perbandingan Praktis Tarawih 8 vs 20 Rakaat
Agar lebih mudah memahami, berikut perbandingan singkat antara kedua praktik ini:
| Aspek Perbandingan | Tarawih 8 Rakaat | Tarawih 20 Rakaat |
|---|---|---|
| Landasan Dalil | Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Aisyah RA, fokus pada kualitas ibadah Rasulullah. | Praktik Khalifah Umar bin Khattab RA dan konsensus mayoritas sahabat (Ijma’). |
| Prioritas Utama | Mengutamakan kualitas shalat (panjangnya bacaan dan kekhusyukan) untuk meneladani Rasulullah SAW. | Mengutamakan kuantitas dan kemudahan jamaah dalam shalat berjamaah, sesuai praktik mayoritas sahabat. |
| Implikasi Praktis | Waktu pelaksanaan lebih singkat, cocok bagi mereka yang ingin shalat di rumah dengan khusyuk atau ingin tidur lebih awal. | Waktu pelaksanaan lebih lama, cocok bagi mereka yang ingin merasakan kebersamaan berjamaah yang lebih lama. |
| Status Hukum Fikih | Sah dan sunnah. Dilakukan oleh sebagian besar ulama dan masjid di Arab Saudi. | Sah dan sunnah muakkadah. Dilakukan oleh mayoritas ulama dan masjid di seluruh dunia, termasuk Indonesia. |
Tips Praktis Mengatasi Konflik Tarawih di Lingkungan Keluarga dan Masjid
Di lapangan, saya sering mendapati jamaah yang memilih 8 rakaat karena merasa lebih fokus dan bisa menikmati setiap sujudnya, sesuai dengan sunnah Rasulullah yang memanjangkan shalatnya. Mereka merasa lebih mendapatkan inti ibadah dengan jumlah rakaat yang lebih sedikit namun kualitasnya terjaga. Di sisi lain, ada juga jamaah yang merasa lebih nyaman dengan 20 rakaat karena sudah menjadi kebiasaan turun-temurun dan rasa kebersamaan dengan jamaah lain sangat kuat.
Maka dari itu, saya ingin memberikan beberapa tips praktis agar perbedaan ini tidak merusak keharmonisan keluarga dan lingkungan sekitar:
- Prioritaskan Khusyuk di atas Jumlah Rakaat
Tujuan utama kita beribadah adalah mendekat kepada Allah ﷻ SWT. Jika Anda merasa lebih khusyuk dan tenang saat shalat 8 rakaat, maka pilihlah 8 rakaat. Jika Anda merasa lebih khusyuk dan tentram saat mengikuti 20 rakaat bersama jamaah, maka pilihlah 20 rakaat. Jangan biarkan jumlah rakaat mengalahkan kekhusyukan Anda. - Jaga Sikap Toleransi dan Husnuzan (Berprasangka Baik)
Jika Anda shalat 8 rakaat di masjid yang melaksanakan 20 rakaat, jangan mencibir mereka yang melanjutkan shalat hingga 20 rakaat. Sebaliknya, jika Anda shalat 20 rakaat, jangan menganggap mereka yang pulang setelah 8 rakaat sebagai “kurang ibadah” atau “malas.” Ingatlah, mereka yang melanjutkan shalat 20 rakaat mengikuti praktik para sahabat, dan mereka yang memilih 8 rakaat mengikuti praktik Rasulullah SAW. Keduanya sama-sama mulia. - Bermusyawarah di Keluarga
Jika Anda menghadapi situasi seperti yang saya sebutkan di awal (suami istri berbeda pilihan), duduklah bersama dan sepakati. Misalnya, suami shalat 8 rakaat di masjid, lalu pulang dan melanjutkan ibadah sunnah lainnya di rumah. Istri melanjutkan 20 rakaat. Atau, sepakati untuk bergantian mengikuti 8 rakaat di satu masjid dan 20 rakaat di masjid lainnya. Fleksibilitas ini akan menjaga keharmonisan rumah tangga. - Fokus pada Tujuan Ibadah
Shalat tarawih adalah sarana untuk mendekat kepada Allah ﷻ, bukan ajang kompetisi. Prioritaskan ibadah lain di bulan Ramadan, seperti membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan berdzikir. Jangan biarkan perdebatan tentang jumlah rakaat membuat Anda lupa pada inti Ramadan itu sendiri.
Analisis Mendalam Mengenai Pilihan Fikih
Mari kita dalami sedikit mengapa kedua pandangan ini bertahan hingga kini. Pilihan tarawih 8 rakaat seringkali menjadi pilihan bagi mereka yang ingin meneladani kualitas ibadah Rasulullah SAW. Dalam hadits Aisyah, dijelaskan bahwa Rasulullah shalat malam dengan durasi yang sangat panjang. Bahkan, saking panjangnya shalat beliau, para sahabat merasa kesulitan mengikutinya.
Berbeda dengan tarawih 20 rakaat yang berpegang teguh pada praktik di era Umar bin Khattab. Saat itu, Umar menyadari bahwa tidak semua orang mampu berdiri lama. Untuk mempermudah umat, beliau membagi 20 rakaat menjadi beberapa kali salam dengan bacaan yang lebih pendek. Dengan cara ini, lebih banyak orang dapat berpartisipasi dan mendapatkan pahala berjamaah. Ini adalah contoh maslahah mursalah, yaitu kebijakan yang didasarkan pada kemaslahatan umat, yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Praktik inilah yang kemudian dilestarikan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi selama berabad-abad, dan menjadi rujukan utama madzhab-madzhab fikih Ahlussunnah wal Jamaah.
Pilihan Terbaik Adalah yang Membuat Hati Tenang
Saudara-saudariku yang dirahmati Allah ﷻ, mari kita kembali pada esensi ibadah. Di bulan yang penuh berkah ini, fokus utama kita seharusnya adalah meningkatkan kekhusyukan, menjalin silaturahim, dan membersihkan hati. Perbedaan tarawih 8 dan 20 rakaat adalah anugerah. Ia memberi kita pilihan dan keringanan. Jika Anda merasa lebih khusyuk dengan 8 rakaat, silakan kerjakan. Jika Anda merasa lebih bersemangat dengan 20 rakaat, silakan lanjutkan.
Yang paling penting adalah bagaimana kita menjaga ukhuwah Islamiyah, menjaga persatuan, dan menghindari perdebatan yang tidak perlu. Saat Anda memasuki masjid, ikuti imam yang ada di sana. Jika imam shalat 8 rakaat, ikuti 8 rakaat. Jika imam shalat 20 rakaat, ikuti 20 rakaat. Dengan mengikuti imam, Anda mendapatkan pahala berjamaah secara sempurna. Mari kita jadikan bulan Ramadan ini sebagai momen rekonsiliasi hati, bukan perpecahan. Semoga Allah ﷻ menerima amal ibadah kita semua.
Pertanyaan yang Sering Diajukan Seputar Tarawih (FAQ)
Apakah shalat tarawih saya sah jika memilih 8 rakaat, sementara masjid lain 20 rakaat?
Ya, shalat tarawih 8 rakaat Anda sah dan diterima, asalkan dilaksanakan sesuai rukun dan syarat shalat. Perbedaan jumlah rakaat tidak membatalkan ibadah. Rasulullah SAW tidak pernah secara eksplisit melarang atau mewajibkan jumlah tertentu dalam tarawih, sehingga kedua praktik ini masuk dalam cakupan sunnah.
Mana yang lebih afdal, shalat tarawih di masjid atau di rumah?
Lebih afdal shalat tarawih di masjid secara berjamaah. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa shalat tarawih bersama imam sampai selesai, maka ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk.” (HR Abu Dawud). Keutamaan berjamaah di masjid lebih besar daripada shalat sendirian di rumah, meskipun di rumah Anda dapat memanjangkan bacaan.
Bagaimana jika di masjid hanya ada shalat 8 rakaat, tetapi saya ingin 20 rakaat?
Anda dapat mengikuti shalat 8 rakaat bersama imam, lalu setelah witir, Anda melanjutkan shalat sunnah sendiri di rumah untuk melengkapi menjadi 20 rakaat. Atau, Anda dapat mencari masjid lain yang melaksanakan 20 rakaat. Fleksibilitas ini diizinkan dalam Islam.
Apakah shalat tarawih harus selalu 20 rakaat?
Tidak. Shalat tarawih tidak harus 20 rakaat. Jumlah 20 rakaat adalah praktik yang ditetapkan oleh Khalifah Umar bin Khattab dan didukung oleh mayoritas madzhab, namun 8 rakaat juga memiliki landasan dalil yang kuat dari hadits Rasulullah SAW sendiri.
Jika shalat tarawih 20 rakaat, apakah harus diikuti witir 3 rakaat?
Umumnya, shalat tarawih diikuti dengan shalat witir. Shalat witir adalah penutup shalat malam. Jumlah rakaat witir minimal satu rakaat, dan yang paling umum adalah tiga rakaat. Jika Anda shalat tarawih 20 rakaat di masjid, biasanya imam akan melanjutkan dengan 3 rakaat witir. Dianjurkan untuk mengikuti imam hingga selesai witir.

![Perbedaan Tarawih 8 Dan 20 3 Tingkatan Makna Spiritual Puasa Ramadhan untuk Hati Tenang [Analisis Dalil]](https://islamku.id/wp-content/uploads/2026/01/image-1-768x419.png)
![Perbedaan Tarawih 8 Dan 20 [TERUNGKAP!] 7 Cara Puasa Aman Penderita Maag Tanpa Kambuh!](https://islamku.id/wp-content/uploads/2025/12/image-6.png)



